Aku ingat sekali, setahun yang lalu, tepatnya pada bulan April 2015, aku yang baru saja menerima kiriman uang dari orang tuaku langsung kalap dalam membelanjakannya. Ya, saat itu aku sudah berjanji untuk mentraktir beberapa teman dalam rangka ulang tahunku. Sebenarnya ulang tahunku itu tanggal 28 Maret, tetapi berhubung itu tanggal tua, maka teman-temanku memberikan 'kompensasi' agar aku bisa mentraktir mereka pada tanggal muda saja, yaitu tanggal 1 April.
Kiriman orang tuaku juga lebih banyak dari biasanya. Mungkin mengingat aku yang baru berulang tahun. Namun, walaupun lebih banyak, bagiku sama saja, karena sebagian besar sudah ‘dibajak’ oleh teman-temanku untuk membayar makanan mereka.
Yang semula berjumlah Rp 800.000, sekarang tersisa Rp 600.000. Uangku berkurang secara drastis di hari pertama. Namun aku masih cuek saja, toh, masih di nominal ‘ratusan ribu’
Hari demi hari aku jalani seperti biasa. Hanya memang, bulan April ini pengeluaranku sedang banyak. Seperti misalnya ada film Fast and Furious 7 yang baru saja rilis di Bioskop. Tak mungkin aku melewatkan nya. Jadi tanpa pikir panjang langsung saja aku membeli tiket nonton beserta makananya yang ternyata cukup mahal.
Tugas kuliah bulan ini juga terbilang ‘gila’. Hampir setiap dosen memberikan tugas. Biaya print, fotocopy, jilid, dan keperluan lain sebagainya sedikit demi sedikit mulai mengikis dompetku.
Dan yang paling menguras keuangan bulan ini adalah belanjaanku untuk perlengkapan sehari-hari. Hal seperti baju, sepatu, shampo dan lain sebagainya benar-benar membuat dompetku bolong.
Ditambah pengeluaran harian seperti makan, bensin, dan lain-lain, pada tanggal 27 April uang yang tersisa hanya Rp 50.000. Lima hari lagi hingga kiriman uang dari orangtuaku datang. Ini berarti aku harus bisa berhemat untuk empat hari ke depan. Akan tetapi, 50.000 untuk empat hari bagi anak kos adalah jumlah yang sedikit. Hal ini diperparah dengan Bensinku yang sudah hampir habis. Hanya ada satu cara melewati ini, berhemat! Inilah kisah perjuangan anak kost dengan uang yang tersisa
Hari pertama (27 April 2015)
Kuawali hari dengan menyruput kopi manis, berharap bisa menggantikan sarapan agar aku dapat menghemat pengeluaranku. Kebetulan aku sendiri memang suka mengoleksi kopi sebagai teman untuk menonton Bola.
“Uang tinggal 50.000, tapi bensin sudah mau habis. Kalau bensin beli 10.000 kira-kira tahan gak ya empat hari?” Gumamku dalam hati.
Maklum saja, jarak kost-ku dengan kampus cukup jauh. Bahkan bensin full tank saja hanya cukup untuk 1 minggu.
“Kayaknya memang cuman bisa beli 10.000 aja. Kalau lebih, aku bisa gak makan, emangnya aku mau makan bensin?” pikirku.
Akhirnya aku pun membeli bensin seharga 10.000. Kini uangku tinggal 40.000. Setelah itu, aku pun berangkat ke kampus
“Oi Arie!” Temanku, Lutfie, memanggil
“Kenapa bro?”
“Ini loh, anak-anak pada ngajakin main Futsal sehabis kuliah, mau ikut gak?”
“Waduh, duit aku lagi sekarat nih. Tanggal 1 baru uang kiriman datang nih fie” Jawabku.
“Ah kau tinggal telpon orang tua kau saja, minta duit kiriman dikasih lebih cepat, selesai dah masalah. Cuman lebih cepat 5 hari pun, pasti orang tuamu mau”
“Ndak bisa gitu, ini juga tanggal tua, Orang tua belum gajian.. kasian merekanya”
“Iya iya.. aku ngerti” Tutup Lutfie.
Satu godaan berhasil kulalui. Sebenarnya aku ingin sekali bermain futsal, tapi yang terpenting sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa tetap makan dalam empat hari ke depan dengan uang seadanya.
Selesai kuliah, aku langsung pergi ke warteg. Nasi putih, Telur mata sapi, sosis, dan tempe 2 buah sudah cukup untuk aku bawa dengan harga Rp 8000. Sengaja aku bungkus karena biasa nasinya lebih banyak.. haha.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung menyantap makanan tadi. Aku tidak ingin makan siang, lebih baik makan sore, karena kenyangnya bisa lebih awet sampai malam. Untuk empat hari ini, aku harus menghapus jadwal makan malam dulu.
Hari pertama aku lalui dengan cukup mulus. Berharap besok bisa dipertahankan
Sisa uang : Rp 32.000
Hari hingga sebelum uang ditransfer : 3 Hari
Hari kedua (28 April 2015)
Seperti biasa, kumulai hari dengan menyruput kopi manis untuk sekedar mengganjal perut. Namun pagi ini aku sedikit melakukan Skipping selama 20 menit. Ini kulakukan agar bisa membakar kalori, karena aku memprediksi dalam empat hari ke depan aku akan sarapan dengan Kopi manis terus.
Setelah mandi dan berkemas, aku langsung berangkat kuliah. Sesampainya aku di kelas, Fredi, teman akrabku, langsung berlari ke arahku.
“Oii.. bayar, bayar!.. haha”
“Bayar apa Fred?”
“Pura-pura ndak tau lagi.. 3-0 bro.. 3-0”
Kampreeet..! aku lupa kalau tanggal 26 April kemarin aku ada taruhan dengan Fredi soal pertandingan Everton vs MU. Dan di luar prediksi, Everton menang 3-0!!.
“Haha, kau kira aku lupa karna aku tidak masuk kemarin?.. sudah sini, 10.000” Tagih Fredi
“Oi Fred, aku bayar tanggal 1 Mei aja mau gak? Aku lagi butuh duit nih.”
“Gak bisa bro.. janji adalah janji, kan kau juga yang ngajak taruhan.”
“Yaudah, aku bayar 5000 dulu, besok aku bayar 5000 lagi.”
“Hmmm.. iyalah, tapi besok bayar!”
“Pasti, tenang aja kau” tutupku.
Hari ini terjadi pengeluaran tak terduga. Padahal aku sudah menyusun rencana keuangan untuk 3 hari kedepan. Semua rencana hancur. MU memang tidak bisa diharapkan. Haaah, ternyata Taruhan hanya akan membawa petaka.
Kujalani pelajaran di kelas dengan perasaan dongkol sekaligus bingung. Bingung bagaimana cara mengatur kembali keuangan yang seolah-olah telah ter-reset saat Fredi menagih uang taruhan.
Pulang kuliah, kembali aku mampir ke warteg langgananku. Membeli lauk yang sama, harga yang sama, dan memakannya pada waktu yang sama seperti kemarin, pukul 4 sore.
Kusudahi hari ini dengan hati yang kesal.
Sisa uang : Rp 19.000
Hari hingga sebelum uang di transfer : 2 Hari
Hari ketiga (29 April 2015)
Sesampainya di kampus, aku langsung menghampiri Fredi untuk memberikan sisa uang taruhan yang belum aku bayarkan kemarin.
“Nih fred, aku lunasin.”
“Ok, thank you rie, haha.”
“Udah ya, aku balik ke kelas dulu”
“Yo, hati-hati dijalan.”
“Kampret lu, kelas aku di sebelah doang.”
Selama di kelas, aku kepikiran tentang apa yang akan aku makan hari ini. Uang tinggal 19.000, jika aku makan lauk seperti kemarin, berarti uangku tinggal 11.000. berbagai kemungkinan aku pikirkan di kepala. Apa aku harus makan Mie Instan di 2 hari tersisa? Tapi Mie instan saja tidaklah sehat. Saat aku masih tinggal dengan orang tuaku, aku selalu di didik agar tidak makan Mie Instan lebih dari 2 kali dalam seminggu. Karena itulah selama aku nge-kost, aku tetap jarang menkonsumsi Mie Instan. Sebisa mungkin aku makan Nasi. Namun jika sudah kepepet seperti ini, sepertinya aku tidak punya pilihan lain.
Waktu pulang kuliah pun tiba. Akan tetapi, Resti, ketua kelasku meminta agar seluruh anak kelas untuk tetap berada di dalam kelas sebentar.
“Eeh, jangan pada pulang dulu, ada pengumuman.. duduk dulu semuanya!!”
“Pengumuman apa Res!!?” Teriak Lutfie.
“Udah duduk, duduk aja dulu” Sahut Resti.
"Begini ya, berhubung Diana ini lagi ulang tahun, dia ngadain makan-makan di rumahnya.”
R-E-Z-E-K-I!! akhirnyaaaa. Sesaat mendengar hal itu, segala kegalauanku langsung lenyap. Uang taruhan yang kuberikan kepada Fredi seakan-akan kembali dalam bentuk makanan.
Kesempatan ini tak mungkin aku sia-siakan. Saat acara makan-makan di rumah Diana, aku langsung makan sebanyak 3 piring. Ini seakan-akan sebagai ajang balas dendam atas hari-hari penuh penderitaan kemarin. Malu? Untungnya tidak, karna ini acara bersama teman-teman. Semua rasa malu sudah lenyap. Tidak ada yang Jaim. Semua orang bebas makan dengan tingkah apapun.
![]() |
| source : |
Sepulang dari rumah Diana, perasaanku sangat puas. Kenyaang sekali. Akan tetapi perasaan senang itu langsung buyar menjadi rasa khawatir saat aku melihat meteran bensin yang sudah berada pada titik merah. Ooh, nasib, sepertinya aku harus kembali berjuang di satu hari tersisa.
Bensin adalah hal pokok yang tak boleh terabaikan. Tanpa bensin, aku tidak bisa kuliah. Sepertinya aku memang harus makan Mie Instan besok. Jadilah aku mengisi bensin kembali senilai 10.000 rupiah. Dan kini jumlah uang yang tersisa sangat memprihatinkan
Sisa uang : Rp 4.000
Hari hingga sebelum uang di transfer : 1 Hari
Hari keempat (Final Day) (30 April 2015)
Akhirnya, inilah hari terakhir aku harus berjuang. Besok, ya, besok adalah hari di mana uang bulananku akan ditransfer. Uangku sekarang hanya tersisa 4.000 rupiah. Sangat pas untuk membeli 2 mie instan.
Ku cek grup BBM kelas, dan ada pemberitahuan jika kelas hari ini ditiadakan karena Dosen yang bersangkutan sedang ada seminar. Yeaaah, kuanggap ini sebagai hadiah di hari terakhirku menahan lapar.
Ku pergi ke warung, dan membeli 2 Mie Instan. 1 buah seharga 2 ribu. Ku beli 2 buah hingga menjadi 4000 rupiah. Habis sudah uangku tepat di hari terakhir sebelum uang bulananku dikirim. Menu makan hari ini cukup dengan Mie Instan + kopi hangat. Sangaaat nikmat mengingat besok aku bisa kembali makan seperti biasa tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
Sisa uang : Rp 0
Hari hingga sebelum uang di transfer : 0 Hari
1 May, 2015
Kriiiiing.. nada dering HP yang kencang membuatku tersentak dari tidurku. Kulihat Mamaku menelpon. Akhirnya, ini dia yang sudah kutunggu-tunggu. Telfon untuk memberitahu jika uang sudah ditransfer. Rasa haru dan bangga terhadap diri sendiri campur aduk menjadi satu. Tanpa basa-basi, langsung saja aku angkat telfon itu.
“Halo mah?”
“Halo, bang..”
“iya mah kenapa?”
“Anu bang..”
“Kenapa mah?”
“Mama belum bisa ngirim uang hari ini, soalnya ada keperluan mendadak.”
“EEH!?”
“Iya, mungkin mama baru bisa kirim uang bulananmu 5 hari lagi.”
“T..ta..tapi maah”
“Tenang aja, ini mama ada transfer dulu 50.000, nanti tanggal 5 baru mama kirimin uang bulanan kamu ya”
"………….”
“Halo bang? Udah ya, pulsa mamah udah mau habis.”
Hancur sudah. Hari yang seharusnya menjadi hari terbaik, seakan berubah menjadi hari paling mengecewakan. Uang bulananku ditunda 5 hari, dan Mama hanya memberikanku uang 50.000. Kondisi ini sama persis seperti lima hari yang lalu. Arrrgghh!! Apakah ini kisah tanggal tuaku jilid 2? bukan!! INI TANGGAL MUDAAA!!
Lemas sudah badan ini. Bahkan nafsu untuk mengambil uang 50.000 itu sama sekali tidak ada. Jika aku mengambil uang itu, artinya aku akan kembali berjuang dari awal lagi. Yah, sepertinya ini bisa jadi pelajaranku. Bagaimanapun, aku harus belajar mengatur keuangan. Aku tidak boleh mengulangi kesalahan. Aku sudah kapok.
‘Tok Tok’
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kost-ku. Aaaah, aku harap ini bukan Ibu Kost yang mau menagih uang tinggal.
Dengan langkah lemah, dan perasaan campur aduk, aku berjalan menghampiri pintu. Saat aku buka…
“Tadaaaaaaaa…. !!!
Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok yang ada di balik pintu itu adalah Mamaku. Ada apa ini? ini ibuku kan? Apa aku salah lihat? Berbagai pertanyaan memenuhi otakku. Aku tak bisa berkata-kata. Bagaimanapun juga, saat itu aku seperti melihat seorang malaikat.
“Hei bang, kok bengong!? Sampe sekaget itukah ngeliat mama? Haha.”
“K..kok Mama ada di sini?”
“Memangnya salah ya kalo mama ngeliat anaknya sendiri?”
“Nggak, bukan begitu. Tapi tadi kan Mama barusan nelpon.. itu Mama nelpon di mana?”
“Haha, sebenarnya itu Mama lagi nelpon di depan kamar abang, sengaja Mama bilang begitu biar abang lebih senang waktu liat mama datang. Selamat ulang tahun ya anakku, maaf ya telat 1 bulan lebih ngucapinnya, hehe.” Ucap Ibuku sembari mencium pipi kanan dan kiriku.
Sektika itu langsung saja kupeluk Mamaku, tak kusangka, tanggal 1 May ini bukan sekedar uang yang datang, melainkan seseorang yang paling berharga dalam hidupku, Mamaku. Perjuangan lima hari kemarin seolah-olah sebagai bayaran atas apa yang kudapatkan sekarang. Ini adalah momen paling membahagiakan selama aku merantau. Dan pastinya, aku juga mendapatkan uang bulananku hari ini, hehehe..
Yah, semua itu adalah pengalaman masa laluku. Dari situ, aku belajar bagaimana caranya mengatur keuangan dengan baik. Tidak terlalu boros, dan yang pasti harus lebih selektif dalam membeli barang-barang apa aja yang diperlukan,





Tidak ada komentar:
Posting Komentar